|
Meliput Trauma dan Anak-Anak |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Apapun topik liputannya, berbagai aturan dasar berbeda digunakan ketika mewawancarai anak-anak. Mereka memiliki kerentanan sehingga berhak mendapatkan privasi yang lebih besar dari orang dewasa bahkan jika perlindungan semacam itu tidak dapat diberikan oleh perundang-undangan. Para jurnalis harus menghargai hak ini walau mendapat tekanan berkompetisi dalam meliput berita. Melindungi korban yang masih anak-anak dari trauma selanjutnya harus lebih diutamakan daripada mendapatkan sepatah kata untuk dijadikan berita.
Pedoman mewawancarai secara umum: Mintalah izin dari salah satu orangtua atau wali si anak sebelum mewawancarai atau mengambil fotonya. Jika hal ini tidak memungkinkan, cobalah untuk mengontak orang dewasa dari pihak kerabat sebelum menggunakan semua material yang berkaitan dengan anak tersebut. Menginformasikan persetujuan dari keluarga.Maksudnya menjelaskan kepada salah satu orangtua dan anak tersebut apa beritanya dan bagaimana nanti wawancara tersebut akan digunakan, misalnya untuk feature atau berita utama. Jika memungkinkan, pastikan salah satu orangtua atau seseorang yang dikenal oleh si anak tersebut ikut hadir saat wawancara berlangsung. Carilah tempat yang tenang sebagai lokasi wawancara dan lakukan sebaik mungkin untuk membuat si anak tersebut merasa nyaman. Bersiaplah menghabiskan cukup banyak waktu untuk meraih kepercayaan dari si anak dengan membicarakan kesenangannya juga hal-hal apa saja yang menarik perhatiannya. Jika berhadapan dengan anak-anak yang masih kecil, usahakan mata Anda berada di bawah level mata mereka dan jangan lupa ajak bicara boneka mainan yang mereka pegang atau mainkan sebuah permainan bersama. Beritahukan nama Anda dan jelaskan tugas seorang jurnalis dalam bahasa yang bisa mereka pahami. Sementara itu juru kamera atau fotografer bisa menunjukkan kamera mereka dan menjelaskan bagaimana cara kerjanya sehingga membuat si anak tertarik.
Berikan kontrol wawancara tersebut sebanyak mungkin kepada si anak: Buat si anak mengerti bahwa dia bisa memilih tidak menjawab sebuah pertanyaan atau meminta Anda tidak menggunakan informasi yang sensitif dalam liputan Anda. Jelaskan kepada anak-anak tersebut bahwa mereka adalah diri mereka sendiri dan tidak ada jawaban yang benar atau salah. Anak-anak sering mencoba membuat Anda senang sehingga mungkin saja mengatakan hal-hal yang menurut mereka ingin Anda dengar daripada bersikap jujur. Ajukan pertanyaan terbuka yang memungkinkan mereka terus bercerita, seperti 'Bagian mana yang paling sulit?' daripada pertanyaan yang sudah jelas jawabannya seperti 'Apakah kamu takut?' Jangan lupa ucapkan terima kasih kepada si anak karena telah membantu berita Anda. Pastikan dia mengetahui bahwa kontribusi yang dia berikan sangatlah penting.
Mewawancarai anak-anak mengenai trauma yang terjadi sebelumnya: Anda harus mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian tersebut dengan berbicara kepada orangtua, pengacara, guru bahkan dokter yang merawatnya sebelum wawancara berlangsung. Anda bisa menambahkan dokumen seperti laporan polisi dan catatan pengadilan untuk menekankan fakta tentang apa yang berlangsung. Jika ada topik atau hal-hal rinci yang sangat sulit untuk dibicarakan oleh si anak, tanyakan hal tersebut kepada orang tua dan kerabat lainnya dan bersikaplah sensitif dengan keadaan tersebut. Biarkan anak dan orangtuanya menentukan tempat yang nyaman bagi mereka untuk diwawancarai. Jane Hansen, reporter Jurnal Konstitusi Atlanta, berbagi pengalaman saat mewawancarai seorang anak berusia 11 tahun yang menjadi korban pelecehan seksual. Dia meminta si anak menunjukkan kamar tidurnya dan di sana si anak menunjukkan koleksi boneka Beanie Babies miliknya. Hansen berkata kepada anak tersebut bahwa anak lakilakinya juga mengkoleksi boneka yang sama. Kemudian keduanya duduk berdampingan di lantai kamar tersebut sehingga si anak tidak harus melihat ke arahnya saat menjelaskan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayah angkatnya. Jangan berbicara sambil berdiri sehingga anak harus melihat ke atas ke arah Anda, berapa pun mudanya usia mereka. Hargai perasaan mereka dan caranya masing-masing untuk mengingat kembali tragedi yang terjadi. Refleksikan kembali apa yang diceritakan si anak kepada Anda dan berikan kesempatan padanya untuk memperbaiki jika ada yang salah. Anda harus belajar mengenai trauma anak-anak termasuk berbicara dengan penasihat program trauma, mengikuti program-program pendidikan atau membuat riset trauma anak-anak melalui website yang memiliki otoritas. Pertimbangkan pertanyaan apa yang cocok untuk umur yang berbeda misalnya anak yang masih sangat kecil akan sulit untuk mengingat kembali rincian kronologisnya namun bisa menjelaskan mainan apa yang sedang dia pegang saat angin topan melanda rumahnya. Jangan mengajukan pertanyaan yang mengimpliklasikan rasa bersalah seperti, 'Apakah kamu tidak mengenakan sabuk pengaman?' atau 'Apakah kamu selalu berjalan sendirian di malam hari?' Jagalah supaya wawancara berlangsung sesuai dengan usia mereka: tigapuluh menit maksimum untuk anak-anak di bawah usia sembilan tahun, empatpuluh lima menit untuk anak-anak berusia di antara 10 dan 14 tahun serta satu jam untuk remaja. Jika anak-anak yang diwawancarai terlihat bosanatau perhatiannya mulai teralihkan segeralah mengambil jeda. Ini mungkin cara si anak menunjukkan bahwa emosinya telah terkuras habis. Jangan menggunakan informasi yang akan mempermalukan atau menyakiti si anak - walau dia telah memberikan ijin. Anak-anak akan memberitahukan apa saja yang ingin mereka katakan namun tidak berarti Anda menayangkan semua hal yang dia sebutkan. Tanyakan pada si anak apakah dia punya pertanyaan sebelum Anda pergi dan jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih. Cek kembali hasil wawancara Anda dengan orang tua si anak juga anak-anak lain yang lebih tua usianya setelah wawancara selesai.
Setelah tragedi kekerasan terjadi, semua orang pasti mengalami rasa terkejut namun ingatlah bahwa orang tua sendiri juga terkadang tidak bisa menentukan batas-batasnya. Pada Pebruari 2005 stasiun TV di Seattle, AS, menayangkan berita tentang seorang anak perempuan yang baru saja diserang seekor anjing di taman bermain. Laporan tersebut menyertakan footage si anak yang terluka tersebut duduk memeluk kedua kakinya sambil menangis terisak-isak dan berkata dia mengira dia pasti tewas terbunuh saat diserang tadi. Ayahnya berdiri di dekat anak tersebut dan dengan jelas setuju wawancara berlangsung dalam keadaan seperti itu. Apakah berita tersebut memang perlu ditayangkan? Mungkin memang demikian. Namun anak tersebut jelas masih sangat trauma dengan serangan yang barusan dia alami sehingga memunculkan pertanyaan, apakah bijak menempatkannya di depan kamera saat itu juga. Ingatlah: ijin orang tua tidak selalu membebaskan para jurnalis dari tanggungjawab mereka untuk melakukan penilaian atas suatu kondisi serta mengikuti etika profesionalisme tertinggi. Sumber: http://www.dartcenter.org/ |
|
Last Updated ( Friday, 05 September 2008 21:12 )
|